Webinar “Anak Didik Siap Belajar”, 300+ Orangtua & Pendidik Bergabung
- account_circle M. Khoiruzzadittaqwa
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIREBON – Ratusan orang tua dan pendidik dari berbagai daerah memadati ruang virtual dalam webinar parenting “Anak Didik Siap Belajar” pada Sabtu malam (31/01).
Melalui kolaborasi bersama Biro Psikologi Al-Bahjah, platform AyahBundaQu menekankan satu pesan kunci bagi para orang tua pembelajar: kematangan sistem saraf dan sensori adalah fondasi yang tidak bisa ditawar sebelum anak melangkah ke jenjang akademik sekolah yang lebih berat.
Telusuri isi konten:
Menggali Konsep “Piramida Belajar” Bersama Pakar

Materi utama dibawakan oleh Ibu Vivi Ade Cerliana, M.Psi., Psikolog, dari Al-Bahjah Psychology Center. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, mulai dari terapis anak spesial, pengelola PAUD, hingga asesor Badan Akreditasi Nasional, Ibu Vivi memaparkan konsep “Piramida Belajar” (Learning Pyramid) dengan analogi yang sangat membumi.
“Mendidik anak itu ibarat membangun rumah. Sebelum membangun gedung (akademik), maka perlu disiapkan fondasinya terlebih dahulu. Fondasi kesiapan belajar dan berperilaku yang belum ‘ajeg’ atau matang, akan berpengaruh pada perilaku anak,” jelas Ibu Vivi dalam pemaparannya,.
Beliau menekankan bahwa banyak orang tua terlalu fokus pada “puncak piramida” (kognisi/intelektual), namun abai pada lapisan bawah seperti sistem saraf pusat, kematangan refleks, dan integrasi sensori (peraba, keseimbangan, dll).
Ketimpangan inilah yang sering memicu perilaku seperti sulit duduk tenang, mudah cemas, hingga masalah perilaku di sekolah.
Setel Rekaman Audio & Baca Materi Webinar
Mengenal Biro Psikologi Al-Bahjah: Profesional dan Mengayomi
Webinar ini juga menjadi ajang pembuktian komitmen Al-Bahjah Psychology Center dalam mengawal tumbuh kembang umat.
Kehadiran lembaga ini menegaskan bahwa Al-Bahjah tidak hanya fokus pada pendidikan spiritual (diniyah), tetapi juga menyediakan layanan profesional klinis yang mumpuni,.
Tim psikolog Al-Bahjah yang dipimpin Ibu Vivi aktif membersamai unit-unit pendidikan formal Al-Bahjah, mulai dari PAUD hingga SMAIQu.
Mereka rutin melakukan asesmen dan observasi untuk memastikan setiap santri memiliki kesiapan mental dan fisik yang optimal, serta memberikan pendampingan bagi kasus-kasus khusus seperti speech delay atau masalah konsentrasi.
Antusiasme Peserta: Dari Masalah “Tag Baju” hingga Curhat Santri
Dipandu oleh Ustadzah Ririn, webinar ini berlangsung sangat interaktif dengan peserta yang hadir dari berbagai daerah, termasuk hingga Balikpapan dan Jawa Timur.
Kolom obrolan (chat) dipenuhi diskusi hangat ketika peserta menyadari bahwa kebiasaan “aneh” anak mereka ternyata memiliki penjelasan medis.
Beberapa sorotan diskusi yang menarik perhatian meliputi:
- Masalah Sensori Sehari-hari: Banyak peserta baru menyadari bahwa anak yang tidak tahan label (tag) baju di leher, suka mengemut jari, atau menulis dengan kepala miring adalah tanda adanya refleks primitif yang belum tuntas.
- Tantangan Santri Baru: Seorang wali santri, Ibu Eva, mencurahkan isi hatinya tentang anaknya (11 tahun) yang kesulitan menghafal saat mandiri di pondok. Ibu Vivi memberikan solusi menenangkan, menekankan bahwa usia 11-15 tahun adalah masa transisi remaja (“otak abu-abu”), sehingga diperlukan komunikasi intens antara orang tua dan asatidz untuk menjembatani pola pendampingan.
- Anak “Terburu-buru”: Menanggapi keluhan anak yang selalu mengerjakan tugas dengan tergesa-gesa, Ibu Vivi menyarankan asesmen mendalam untuk melihat potensi impulsivitas atau ketidaknyamanan sensori, bukan sekadar melabeli anak malas.
Curhat Peserta: Dari Masalah “Tag Baju” Hingga Hafalan Santri
Atmosfer webinar terasa semakin hangat ketika sesi diskusi dibuka. Kolom obrolan (chat) Zoom seketika berubah menjadi ruang konsultasi massal, di mana ratusan peserta menyadari bahwa kebiasaan “unik” anak-anak mereka, bahkan diri mereka sendiri, ternyata memiliki penjelasan ilmiah.
Banyak orang tua terkejut saat mengetahui bahwa masalah perilaku anak seringkali bermula dari ketidaknyamanan fisik atau sensori.
“Anak suka mengupas kulit kuku tangan dan kaki… kadang kulit tertarik berdarah baru berasa perih dan tidak ada kapoknya,” tulis akun Syifa, menggambarkan kondisi anaknya yang berkaitan dengan kecemasan dan sensori.
Senada dengan Syifa, partisipan lain seperti Neli Sofiah dan Mister Mudi kompak mengeluhkan hal spesifik yang sering dianggap sepele: “Tidak tahan tag baju”,.
Bahkan, ada peserta yang menyadari kebiasaan anaknya yang “Kalau lagi mikir sampai miring-miring kepalanya, pandangannya pun miring,” tulis sebagian peserta.
Ibu Vivi menjelaskan bahwa perilaku seperti tidak tahan label baju atau menggigit kuku seringkali merupakan tanda Refleks Primitif yang belum tuntas atau sensitivitas taktil yang berlebihan.
Dilema Wali Santri: Transisi Kemandirian
Diskusi semakin mendalam ketika Ibu Eva, seorang wali santri dari Sumber, Cirebon, menyampaikan kegelisahannya secara langsung. Ia menceritakan perubahan anaknya (11 tahun) yang kini menempuh pendidikan di SMPIQu Al-Bahjah.
“Anak saya tuh kebetulan waktu sebelum masuk SMP di Al-Bahjah itu kalau menghafal harus didampingi… ketika dia sekarang di Pondok harus menghafal bahasa Arab, Tahfidz, dan sebagainya, tuh kesulitan ketika dia mandiri,” ungkap Ibu Eva dengan nada khawatir.
Menanggapi hal ini, Ibu Vivi menenangkan hati para wali santri. Beliau menekankan bahwa usia 11 tahun adalah masa transisi dari ketergantungan pada orang tua menuju kemandirian.
“Ini butuh waktu, Ibu. Anak lepas yang tadinya terbiasa dengan Uminya… sangat menyarankan untuk berkomunikasi kepada Asatidz-nya,” saran Ibu Vivi, menekankan pentingnya sinergi pola asuh antara rumah dan pondok.
Ungkapan Hati Guru dan Tantangan Remaja
Tidak hanya orang tua, para pendidik pun turut serta mencari solusi. Naveesa Aziz, seorang guru, membagikan kasus yang cukup berat mengenai murid baru berusia 12-13 tahun.
“Anak ini menunjukkan perilaku yang cukup mengkhawatirkan… saat memiliki banyak pikiran atau tekanan emosi, ia mengekspresikannya dengan menyakiti diri sendiri, seperti membenturkan kepala,” tulis Naveesa.
Kasus-kasus berat seperti ini mendapat perhatian khusus dari Biro Psikologi Al-Bahjah. Ibu Vivi menyarankan agar tidak terburu-buru melakukan diagnosa, namun segera melakukan observasi mendalam dan asesmen profesional untuk menemukan akar masalahnya, apakah murni psikologis atau ada hambatan perkembangan lainnya.
Interaksi yang hidup ini membuktikan bahwa Webinar “Anak Didik Siap Belajar” berhasil menjadi wadah yang aman bagi orang tua dan pendidik untuk memvalidasi perasaan mereka, sekaligus menemukan peta jalan solusi yang konkret.
Pesan Kunci: Fokus adalah Hasil, Bukan Niat
Poin penting yang menjadi catatan utama tim AyahBundaQu adalah kesimpulan bahwa “Fokus itu bukan sekadar niat, tapi hasil dari integrasi tubuh dan otak yang seimbang”.
Jika anak terlihat malas atau tidak fokus, orang tua diminta untuk tidak melakukan self-diagnosis. Langkah terbaik adalah mengecek kembali “piramida” tumbuh kembang mereka:
apakah motorik kasarnya sudah kuat?
Apakah sensorinya terlalu sensitif?
Solusinya seringkali dimulai dari memperbaiki fondasi fisik tersebut melalui stimulasi yang tepat.
Mau Rekaman Lengkap & Ringkasan Materi Webinar Ini?

Apakah Ayah Bunda merasa melewatkan materi “daging” ini? Atau ingin mendengarkan kembali penjelasan detail tentang cara menstimulasi sensori anak di rumah agar siap belajar?
Tim AyahBundaQu bekerja sama dengan Al-Bahjah telah menyiapkan paket lengkap berisi:
✅ Rekaman Ulang Video Webinar
✅ Materi PDF dari Ibu Vivi
✅ Ringkasan Intisari (Resume)
Jangan sampai ketinggalan informasi parenting berkualitas berikutnya!
👉 KLIK DI SINI UNTUK BERGABUNG KE WAITING ROOM WHATSAPP CHANNEL AYAHBUNDAQU
(Dapatkan akses materi webinar ini dan jadwal parenting Al-Bahjah selanjutnya secara GRATIS di grup peserta aktif).
Baca juga: Sekolah Pertama, Pendidikan Terbaik: Parenting Zaman Fitnah
Mari bersinergi membangun generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga matang jiwa dan raganya.
——————————————————————————–
Penulis: Tim Redaksi AyahBundaQu
Sumber: Webinar “Anak Didik Siap Belajar” (31/01/26) – Al-Bahjah Psychology Center
Penulis M. Khoiruzzadittaqwa
Admin & Writer, specializing in web journalism, fullstack digital marketing, branding strategy, and Islamic educational content. More: https://kontak.link/muhzadit

Saat ini belum ada komentar