Memahami Makna Mendalam Amalan Ibadah Haji Menurut Buya Yahya
- account_circle Yayasan Al-Bahjah
- calendar_month Senin, 12 Mei 2025
- visibility 232
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedalaman makna luar biasa. Melalui tausiyah Buya Yahya di Al-Bahjah TV, kita bisa menggali pemahaman lebih mendalam tentang hakikat dan filosofi di balik setiap ritual haji.
Makna Nusuk dalam Konteks Ibadah Haji
Kata nusuk dalam bahasa Arab secara umum berarti ibadah. Namun dalam pembahasan fikih haji, istilah ini memiliki makna khusus yang merujuk pada rangkaian amalan-amalan khusus dalam ibadah haji. Buya Yahya menjelaskan bahwa nusuk dalam konteks haji mencakup semua rukun, wajib, dan sunah yang terkait dengan pelaksanaan haji.
Perbedaan makna ini penting dipahami agar kita tidak menyamakan ibadah haji dengan ibadah-ibadah lainnya. Meski semua ibadah bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, haji memiliki tata cara dan filosofi khusus yang membedakannya.
Tafath: Penyucian Diri Melalui Tahallul
Buya Yahya mengungkapkan makna menarik tentang kata tafath yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Kata yang sebelumnya jarang digunakan ini bermakna kotoran atau najis. Dalam konteks haji, tafath dimaknai sebagai penyucian diri dari dosa-dosa.
Proses penyucian ini mencapai puncaknya saat tahallul – ketika jamaah haji memotong rambut sebagai simbol penyelesaian ibadah. Tahallul terbagi menjadi dua:
- Tahallul asghar (kecil)
- Tahallul akbar (besar)
Keduanya menandai berakhirnya larangan-larangan ihram dan kesempurnaan ibadah haji.
Mengagungkan Syiar Allah dalam Ibadah Haji
Syiar haji menurut penjelasan Buya Yahya adalah manifestasi nyata dari kebesaran ibadah ini. Beberapa contoh syiar haji yang mencolok:
- Masy’aril haram: Gambaran pemandangan jamaah yang serempak bergerak dari Arafah ke Muzdalifah
- Penyembelihan hewan kurban yang jumlahnya sangat besar
- Aktivitas tawaf di sekitar Ka’bah
Mengagungkan syiar-syiar ini bukan sekadar bentuk lahiriah, tapi harus disertai ketakwaan hati. Buya Yahya mengingatkan bahwa ada bahaya mengerjakan haji hanya untuk tujuan duniawi seperti membuat konten di media sosial.
Baca Juga : Kemuliaan Masjidil Haram | Buya Yahya
Perbedaan Hadyu, Udhiyah, dan Aqiqah
Terdapat beberapa jenis penyembelihan hewan dalam Islam yang sering membingungkan:
Hadyu
- Khusus terkait ibadah haji
- Bisa sebagai dam (denda) untuk pelanggaran tertentu
- Dilaksanakan di tanah haram
Udhiyah
- Kurban Idul Adha
- Bisa dilakukan oleh orang yang tidak berhaji
- Pelaksanaannya bisa di mana saja
Aqiqah
- Penyembelihan untuk kelahiran anak
- Bisa dilaksanakan bersama haji jika memungkinkan
Hakikat Penyucian Diri Pasca Haji
Buya Yahya menekankan pentingnya menjaga kesucian yang telah diraih setelah ibadah haji. Beberapa poin penting yang beliau sampaikan:
- Menjauhkan diri dari berhala modern berupa pemikiran menyimpang
- Menghindari perkataan dusta dan kotor
- Mempertahankan kebersihan hati dari najis maknawi
Beliau mengingatkan bahwa sekembalinya dari haji, kita akan berbaur dengan masyarakat yang beragam. Tantangannya adalah mempertahankan kemurnian iman di tengah pergaulan tersebut.
Konsep Hanif: Kembali kepada Fitrah yang Lurus
Hanif menurut Buya Yahya bermakna berpaling dari kebatilan menuju kebenaran. Dalam konteks pasca haji, ini berarti:
- Kembali kepada tauhid yang murni
- Menjauhi segala bentuk syirik baik besar maupun kecil
- Mempertahankan kesucian niat dalam setiap amal
Buya Yahya mengingatkan tentang bahaya syirik yang digambarkan bagai orang jatuh dari langit dan terkoyak oleh burung-burung – sebuah kehancuran total.
Manfaat Hewan Kurban dalam Ibadah Haji
Buya Yahya menjelaskan bahwa hewan yang dipersiapkan untuk kurban haji memiliki beberapa manfaat:
- Susu yang bisa diperah sebelum penyembelihan
- Bisa ditunggangi dalam keadaan tertentu
- Tetap harus dirawat dengan baik
Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai hewan kurban dan memberikan panduan yang rinci dalam memperlakukannya.
Bekal Penting Menuju Haji Mabrur
Dari penjelasan Buya Yahya, kita bisa menyimpulkan beberapa kunci menuju haji mabrur:
- Memahami makna setiap ritual – Tidak hanya menjalankan tapi menghayati
- Menyucikan niat – Hanya untuk Allah semata
- Menghormati syiar-syiar Allah – Baik secara lahir maupun batin
- Menjaga kesinambungan pasca haji – Tidak kembali kepada dosa
Buya Yahya juga menyarankan untuk mempelajari lebih dalam tentang akidah ahlus sunnah wal jamaah agar terhindar dari penyimpangan dalam memahami tauhid.
Mari Berpartipasi Dalam Program QUBI (Qurban Berkah Indonesia)
- Penulis: Yayasan Al-Bahjah

Saat ini belum ada komentar