Libur Lebaran Tiba, Ini “Pesan Cinta” Buya Yahya: Rahasia Akhlak Santri
- account_circle M. Khoiruzzadittaqwa
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 1.142
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIREBON – Momen kepulangan anak dari pondok pesantren sering kali menjadi saat yang paling dinanti sekaligus mendebarkan bagi setiap orang tua. Ada kerinduan yang membuncah, namun terselip satu tanya di hati: “Apakah anakku benar-benar berubah setelah belajar di sana?”
Pemandangan berbeda tampak pada perpulangan santri Al-Bahjah menjelang Idul Fitri 1447 H ini. Ribuan santri tidak hanya pulang membawa tas berisi pakaian, tetapi membawa perubahan adab yang nyata, sebuah “oleh-oleh” spiritual yang menjadi dambaan setiap ayah dan bunda.
Bukan Sekadar Libur, Tapi Pengabdian Nyata
Perubahan ini bukanlah kebetulan. Sebelum melangkah pulang pada rentang tanggal 9 – 10 Maret 2026, para santri telah dibekali dengan “Pesan Cinta” langsung dari pengasuh mereka, Buya Yahya.
Dalam nasehatnya, Buya Yahya menekankan bahwa keberhasilan seorang santri diuji saat mereka berada di rumah. Santri Al-Bahjah diajarkan untuk:
- Menjadi yang Terdepan dalam Berbakti: Tidak ada lagi santri yang bersantai saat orang tua sibuk; mereka justru berinisiatif mencuci piring sendiri dan merapikan tempat tidur tanpa diperintah.
- Menghadirkan Kesejukan Lisan: Menjaga kelembutan suara dan selalu menampilkan wajah ceria di hadapan orang tua adalah standar akhlak yang ditanamkan.
- Membawa Suasana Langit ke Rumah: Tetap istiqomah menjalankan wirid dan dzikir harian pondok, bahkan mengijazahkan amalan tersebut kepada keluarga dengan cara yang sangat santun.
Pantang “Ongkang-Ongkang Kaki” di Depan Orang Tua
Pesan pertama dan paling keras yang ditekankan Buya adalah soal Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua). Buya mewanti-wanti agar tidak ada satu pun santri Al-Bahjah yang bersikap layaknya “raja” di rumah.
“Jika melihat ibundamu sibuk, jangan sekali-kali kamu ‘ongkang-ongkang’ kaki, Sayang. Haram hukumnya santri diam saja melihat orang tuanya repot,” tegas Buya Yahya dengan nada kebapakan.
Buya meminta santri untuk “ringan tangan” dalam hal-hal kecil namun bermakna besar. Mulai dari mencuci piring bekas makan sendiri, merapikan tempat tidur segera setelah bangun, hingga menawarkan pijatan kepada ayah dan ibu.
“Jangan gengsi memijat orang tua. Gengsi itu bentuk kesombongan, dan tidak ada tempat bagi kesombongan di hati seorang santri,” tambah beliau.
Selain tenaga, santri juga wajib menjaga lisan dan ekspresi wajah. Pantang bagi santri menampakkan wajah masam (merengut) atau mengangkat suara di hadapan orang tua, apapun kondisinya. Kebahagiaan orang tua melihat perubahan akhlak anaknya adalah kunci keberkahan ilmu.
Menjadi “Guru” Tanpa Menggurui
Bagaimana cara berdakwah kepada keluarga? Buya Yahya memberikan trik jitu: jadilah teladan yang halus. Santri diminta tetap menghidupkan suasana pondok di rumah dengan menjaga wirid, dzikir, dan shalat sunnah.
Jika orang tua belum mengetahui amalan tertentu, seperti Al-Wirdullatif atau doa harian, santri diajarkan untuk menyampaikannya dengan santun.
“Ajari mereka pelan-pelan, seolah-olah kalian sedang ‘mengijazahkan’ amalan, bukan mengajari orang yang tidak tahu. Itu akan membuat hati mereka bangga dan tersentuh,” pesan Buya.
Jaga Izzah: Baju Kehormatan dan Batas Pergaulan
Khusus bagi santri putri, Buya memberikan perhatian ekstra mengenai Izzah (kehormatan diri). Godaan mode pakaian dan pergaulan di luar pondok seringkali melunturkan prinsip. Buya berpesan agar santriwati tetap istiqomah mengenakan pakaian yang menutup aurat secara sempurna (syar’i).
Lantas, bagaimana jika orang tua membelikan baju yang “kurang bahan” atau tidak syar’i? Buya memberikan solusi bijak agar tidak melukai hati orang tua:
“Terima pemberian itu, hargai mereka, tapi jangan dipakai keluar rumah. Cukup dipakai di kamar saja. Berikan pengertian pelan-pelan bahwa kalian sedang menjaga kehormatan,” tutur Buya.
Selain itu, batasan pergaulan dengan lawan jenis, termasuk sepupu dan kerabat jauh, harus tetap dijaga ketat sebagaimana saat berada di pesantren.
Wujudkan Impian Anda Memiliki Anak Shaleh-Shalehah
Melihat buah hati tumbuh dengan prestasi akademik sekaligus memiliki kedalaman akhlak adalah investasi dunia dan akhirat.
Al-Bahjah bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan ekosistem yang menjaga fitrah dan menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kini, kesempatan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri Anda telah dibuka. Bergabunglah menjadi bagian dari keluarga besar pejuang Al-Bahjah.
Sistem Pendidikan yang Menjaga Fitrah
Mungkin Anda bertanya, bagaimana konsistensi ini tetap terjaga meski anak jauh dari pengawasan guru? Rahasianya terletak pada SOP Liburan yang terstruktur dari Yayasan Al-Bahjah.
Selama masa libur hingga awal Syawal, santri Al-Bahjah menerapkan:
- Detoks Digital: Larangan penggunaan HP dan media sosial agar santri fokus pada kualitas interaksi dengan keluarga.
- Tontonan Berkualitas: Hanya menyimak tayangan melalui Al-Bahjah TV untuk menjaga pandangan dan hati.
- Pendampingan Orang Tua: Wali santri berperan aktif menyimak hafalan (murojaah) dan mengontrol ibadah harian melalui lembar kegiatan harian.
Dengan bekal nasihat yang menyentuh hati dan panduan teknis yang disiplin ini, diharapkan kepulangan para santri Al-Bahjah dapat menjadi oase penyejuk bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Selamat berkumpul dengan keluarga, wahai para pejuang ilmu. Bawa pulang keberkahan, dan kembali nanti dengan semangat yang lebih membara!
Pusat Informasi: 0853-1899-6497 (Ustadz Nasrudin Abdul Matin, Humas & Pimpinan Redaksi).
Penulis M. Khoiruzzadittaqwa
Admin & Writer, specializing in web journalism, fullstack digital marketing, branding strategy, and Islamic educational content. More: https://kontak.link/muhzadit


Saat ini belum ada komentar