Momen Hangat di Istana: Prabowo, Buya Yahya, dan Ratusan Ulama Bersatu dalam Doa untuk Bangsa
- account_circle M. Khoiruzzadittaqwa
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 245
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Istana Negara yang biasanya lekat dengan protokol ketat, sore itu mencair menjadi ruang penuh keakraban. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama yang mempertemukan pemimpin negara (umara) dengan ratusan pemuka agama (ulama) dari berbagai penjuru tanah air.
Pertemuan ini bukan sekadar forum diskusi kenegaraan, melainkan momentum humanis yang memperlihatkan sisi lain dari seorang kepala negara yang merangkul para kiai untuk saling menguatkan di tengah tantangan zaman.
Cairnya Suasana: Presiden Jadi “Pengarah Gaya”
Kehangatan langsung terasa saat sesi foto bersama dimulai. Jauh dari kesan kaku, Presiden Prabowo justru terlihat aktif mengatur posisi para tamunya agar semua terekam dalam bingkai kamera.
“Gimana? Gimana? Sini. Ayo. Cepat. Majuan, Pak… Ayo sini-sini. Siapa mau ikut? Ayo cepat,” ujar Presiden dengan nada bersahabat, mengajak para ulama untuk mendekat tanpa sekat.
Sikap spontan ini sontak mencairkan suasana, mengubah momen protokoler menjadi pertemuan kekeluargaan yang hangat sebelum diskusi berlanjut ke meja makan.
Pesan Sejuk Buya Yahya: “Indahnya Mendoakan Pemimpin”
Di tengah diskusi mengenai kondisi bangsa, sosok Pengasuh LPD Al-Bahjah, Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, memberikan pesan yang menyentuh hati. Beliau mengingatkan pentingnya menyeimbangkan kritik dengan doa.
Buya Yahya menuturkan bahwa di tengah hiruk-pikuk perbedaan pendapat, masyarakat sering kali lupa akan kekuatan doa bagi para pemimpinnya.
“Tugas kita adalah yang pertama mendoakan. Ini yang sering kita lupakan. Kita mungkin sering bincang, teriak, dan sebagainya. Kita lupa mohon kepada Allah semoga Allah memberikan kekuatan ke semua program-program kebaikan yang beliau rencanakan,” tutur Buya Yahya dengan lembut.
Lebih lanjut, ulama kharismatik ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyikapi perbedaan demokrasi dengan adab yang tinggi demi persatuan Indonesia.
“Ayo kita jalani perbedaan dengan indah, bukan dengan caci maki dan prasangka buruk. Insyaallah semua menuju keindahan negeri ini, kebersamaan, dan kejayaan negeri ini,” tambahnya.
Sinergi Menghadapi Tantangan Global
Di balik suasana santai tersebut, terselip pembahasan substansial mengenai masa depan bangsa. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memaparkan situasi geopolitik dan geoekonomi global secara transparan kepada para ulama.
Hal ini diperkuat oleh penjelasan Muhadjir Effendy mengenai strategi diplomasi Indonesia, termasuk isu Palestina, yang membutuhkan dukungan moral dari para tokoh agama.
KH Marsudi Suhud pun menyambut baik keterbukaan ini, menegaskan bahwa para kiai siap bahu-membahu menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian dunia.
Daftar Tokoh yang Hadir: Representasi Umat Bersatu

Pertemuan ini menjadi simbol persatuan umat, dihadiri oleh sekitar 165 tokoh yang merepresentasikan berbagai ormas dan lembaga pendidikan Islam. Berikut adalah deretan tokoh penting yang turut hadir dalam momen kebersamaan tersebut:
Tokoh Pemerintah & Negara:
- Prabowo Subianto (Presiden RI)
- Ahmad Muzani (Ketua MPR/Sekjen Gerindra)
- Muhadjir Effendy (Penasihat Khusus Presiden)
Pimpinan Ormas & Majelis Ulama:
- KH Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU)
- Prof. Dr. KH Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)
- KH Anwar Iskandar (Ketua Umum MUI)
- KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya – Ketua Umum PBNU)
- Prof. Jimly Asshiddiqie (Cendekiawan Muslim)
- Zaitun Rasmin (Pimpinan Wahdah Islamiyah)
- KH Marsudi Suhud (Ketua MUI/Tokoh NU)
Pimpinan Pondok Pesantren Besar:
- KH Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan PM Gontor)
- KH Nurul Huda Jazuli (Pimpinan PP Al-Falah Ploso)
- KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin – Pimpinan PP Tebuireng)
- Perwakilan Pimpinan PP Lirboyo
- Perwakilan Pimpinan PP Darunnajah
Perwakilan Khusus: Habib Rizieq Shihab yang berhalangan hadir turut mengirimkan perwakilannya sebagai bentuk penghormatan, yakni:
- Habib Hanif Al-Attas (Menantu HRS)
- Habib Muhammad (Menantu HRS)
Pertemuan ditutup dengan kesepahaman bersama bahwa sinergi antara ulama dan umara adalah kunci utama bagi kemaslahatan masyarakat dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pimpinan Redaksi: Nasruddin Abdul Matin, M. Sos.
Data & Fakta Pertemuan:
- Waktu: Kamis, 5 Maret 2026 (Buka Puasa Bersama).
- Tempat: Istana Merdeka, Jakarta.
- Peserta: ±165 orang (Pimpinan Ormas Islam, Pimpinan Ponpes, Cendekiawan).
- Isu Kunci: Konflik Iran-Israel-AS, Keanggotaan di Board of Peace (BOP), Perjanjian Dagang RI-AS (ART), Stabilitas Ekonomi Jelang Lebaran.


Penulis M. Khoiruzzadittaqwa
Admin & Writer, specializing in web journalism, fullstack digital marketing, branding strategy, and Islamic educational content. More: https://kontak.link/muhzadit


Saat ini belum ada komentar